Selasa, 09 September 2014

Dream what you can dream until you find It's all come true!

Setelah bertahun-tahun lamanya aku memendam keinginan ini. tapi, tentu siapa pun ingin dan siapapun pasti pernah bercita-cita tentang ini...

Aku yang awalnya pesimis tentu tidak ingin rasa pesimis ini terus semakin menjadi jadi, orangtuaku selalu bercerita tentang kekuatan doa, mimpi, dan usaha, dan ya hampir semua yang kuadukan kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta menjadi kenyataan, alhamdulillah syukur yang tiada henti apabila membanyangkan betapa beruntungnya hidup kita dibandingkan dengan hidup orang lain yang tidak seberuntung kita....

Jadi ceritanya, aku sempat ingin sekali mengikuti sebuah tes yang akan membawaku menggapai mimpi untuk ke luar negeri, tapi sayang umurku jauh dari kata cukup walaupun beberapa orang meyakinkanku bahwa umur tidak terlalu berpengaruh jika kau mampu, namun orangtua ku berkata lain mereka tidak setuju jika memang kita sudah tahu bahwa itu adalah persyaratan utama. Lenyap, kesempatan yang pertama lenyap.

Aku tergabung di Tim Debat Bahasa Inggris, dengan kemampuan dan modal yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan orang diluar sana. Mimpiku ketika masuk tim ini adalah bisa pergi ke tingkat Nasional, ini salahku kenapa hanya bermimpi sebatas ini, padahal jika mau bermimpi lebih dan tentunya BERUSAHA lebih mungkin aku bisa mewakili Indonesia dalam ajang Internasionalnya. Sudahlah, sudah bisa mencapai tingkat nasional saja sudah membuat senyum lebar untuk kedua orangtuaku. Seperti biasa, ketika aku berhasil memenangkan sebuah pertandingan, bapak selalu bercanda dan bilang "Mungkin jurinya salah dalam menilai", dan ketika pergi ke Nasional pun bapak masih mengatakan hal yang sama. Tapi, kami sama-sama paham bahwa itu adalah ungkapan bangga dari seorang Bapak, beda lagi dengan Mama yang sangat optimis di setiap event yang saya ikuti, semuanya harus perfect. Kami begitu bersemangat dalam meraih prestasi, tak pelak Mama yang sudah tidak diusia muda lagi, masih semangat membuat karya-karya dalam tulisan.. Orangtuaku benar-benar melengkapi setiap elemen hidupku...

 Dan sampai akhirnya aku terdampar di kampus yang sekarang. Lalu, kenapa saya sebut terdampar? Karena disini saya pernah merasa keterasingan, keterpurukan, dll. Namun, sebagai orang yang terdampar waktu itu aku mencoba agar tetap bisa survive dan yak! Adaptasi secara administrasi seakan berhasil ku raih. Lalu kebahagiaan? Sepenuhnya tidak, aku merasa hari-hariku terasa berat dan selalu menghitung hari kepulanganku... Ketika memasuki Semester 2, bukannya tambah cinta malah tambah memusingkan, tapi aku mulai mengisi kegiatan di organisasi dan mulai benar-benar sibuk dan menemukan kebahagiaan disana bukan di sekolah...

Sampai di suatu siang, sepulang dari Jogja mengikuti kegiatan OPTK+, hapeku berdering dan kemudian ternyata aku dipanggil untuk kemudian diajak mengikuti Program ke Jepang (Jenesys 2.0 Programme). Wow! Aku hanya perlu mengirimkan essay dan kemudian aku akan segera diberangkatkan ke Jepang dalam waktu dekat.

Akhirya setelah bersibuk ria mengisi form, menulis essay, membuat passport dan sebagainya aku siap diberangkatkan pada tanggal 17 Juni 2014..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar